Niat awalnya sederhana: hanya ingin membuat teman-teman yang berbakat menulis untuk tidak berhenti menulis lagi karena sibuk dengan dunia nyata di luar sana. Ya, kadang ada rindu untuk membaca tulisan-tulisan jujur yang pernah 'sembarangan' diunggah atau dituangkan di jurnal pribadi, atau curhat-curhat singkat di media sosial mereka yang meskipun ditulis sambil lalu – tapi susunan kata dan ceritanya punya makna. Ya, mungkin ini hanya sekedar rindu pada mereka yang pernah menulis tanpa paksaan. Mereka yang tidak sadar bahwa tulisan mereka punya dampak bagi mereka yang 'tidak sengaja' membacanya. Mereka yang sebenarnya punya talenta, tapi tak berani, atau tak pernah merasa.  

Di bulan Februari lalu Letterplatters menginisiasi Letterature, dimana alasan diatas secara garis besar menjadi pemicunya. Inisiatif yang kemudian ditanggapi positif oleh beberapa rekan, melahirkan dua buku mini, dan dengar-dengar, kini para penulis yang terlibat sedang menggagas ide baru tulisan mereka. Belum lagi eksperimen selama sebulan terakhir ini ternyata membuat saya harus bolak-balik cetak buku karena ada saja yang memesan buku-buku ini dari Jakarta atau luar Jakarta. 

Letterature adalah langkah sederhana, yang saya nikmati setiap jejaknya. Bau lem panas yang merekatkan buku-buku pesanan di tempat cetak setiap akhir pekan, adalah satu dari sekian banyak hal yang saya nikmati setiap prosesnya. Ada kebahagiaan kecil yang tidak dilihat sekedar dari profit semata, dan kali ini sumbernya berasal dari apresiasi orang lain, energi yang terbentuk dari niat sederhana. 

Seiring dengan lahirnya inisiasi Letterature beberapa bulan yang lalu, Letterplatters mengajukan permohonan penerbitan ISBN (International Standard Book Number) kepada Perpustakaan Nasional RI, sebagai insentif dari partisipasi teman-teman penulis di inisiatif Letterature ini. Permohonan penerbitan kami pun akhirnya mendapat validasi, dan kini 13 digit identifikasi unik itu bisa menjadi foot print untuk teman-teman yang berpartisipasi dibawah penerbit Kreasi Komunikata. Akhirnya projek Letterature kini bisa berdiri sendiri secara independen bersama rumah penerbitnya :) 

Bukankah  pada akhirnya rasa puas tertinggi dapat terasa ketika karya kita sampai di tangan orang lain dan bisa dinikmati oleh sebanyak-banyaknya orang? Ketika kata-kata yang ada di kepala sampai di ujung pena dan ketikan jari, lalu hidup di lembaran kertas yang 'menghidupi' jiwa-jiwa yang membacanya kelak?

Kini, harapan sederhana lainnya muncul: kurasi tulisan-tulisan baru dan membantu 'melahirkan' publikasi-publikasi yang pantas diapresiasi. Semoga bermanfaat dan selamat berakhir pekan! 

Comment