Sebuah pesan elektronik masuk ditengah riuhnya pekerjaan yang menumpuk di Jumat sore. Diantara dering telepon yang mengadu, atau suara bising Skype antar negara yang terus bersahutan dimana saya berdiri ditengahnya mencoba tak mendengarkan. Saya buka lagi pesan elektronik itu, sebuah perkenalan "Selatan" yang berisi kumpulan puisi-esai-wawancara yang cukup berbeda dengan kebanyakkan jurnal sastra lainnya. Setelah menyempatkan untuk lihat halaman demi halaman sekilas, saya berjanji akan membacanya di perjalanan pulang nanti malam.

Benar saja, membaca "Selatan" di pusat Jakarta terasa pas, karena jalanan sepanjang Kebon Sirih yang sepi diatas jam 10 malam seperti memerlukan sesuatu untuk menemani. Dan saat hati masih sibuk tebak-tebakan memilih puisi yang mana untuk mengawali, jari ini terlanjur menekan pilihannya sendiri. Ternyata masing-masing satu puisi oleh Edo Wallad dan Gratiagusti Chananya Rompas tepat memulai penyusuran.


"Utara yang selatan dan barat yang sedikit pusat. 'Utarakan ke Selatan', kata mereka yang berada
di Selatan-nya Selatan. Lalu kamu masih menatap kosong, mungkin sedikit berkeringat. Seratus empat
puluh tiga langkah menyisir Kebon Kacang hatiku kini yang berkeringat, teringat kamu yang pernah
membuatku hampir muntah seakan-akan pecah..."
(Jakarta Dua Ratus Lima Puluh Rupiah)


"...sudah lama malam dingin seperti ini tak tersimpan di dalam tangan yang terkepal di dalam saku dan
bau paket ayam goreng yang bercampur dengan parfum di tengkuk tak terbawa angin yang berhembus dari kendaraan yang lewat. kota ini merekam sejarah di tiang-tiang listrik. di jembatan penyebrangan yang mulai bolong-bolong. dan di tikungan tempat mangkal taksi-taksi ngantuk. karena kau tak bisa lagi duduk di sebuah tempat dan membayangkan kau akan kembali ke sini dua tiga puluh tahun lagi..."
(Kadang-Kadang Ingin Juga Berdandan Hanya Karena Ini Jumat Malam)


Perjalanan pulang jadi tidak membosankan, karena puisi-puisi yang secara acak dibaca malah seperti poetry tarot untuk Jumat malam kali ini. Terimakasih untuk Anya, Mikael dan teman-teman mereka di komunitas Bunga Matahari (BuMa) untuk amunisi yang kadang kata-katanya meresahkan, namun tetap bisa menenangkan. Semoga kurasi jurnal "Selatan" ini bisa dinikmati oleh yang lain juga, itu kenapa saya letakkan petikan-petikan favorit dari puisi-puisi mereka di jurnal ini. Semoga mereka tidak keberatan.

Coba sempatkan intip ya, teman-teman. Siapa tahu ketemu yang bisa diresapi dari sesi Musim Hujan mereka, sebelum sesi Musim Kemarau tiba. Karena jujur saja, jarang 'kata' masih bisa berbicara seenaknya, sejujur 'rasa' yang dituliskan disana. Selamat menikmati.

www.jurnalselatan.com

Comment